Dinding ToiletKabarKegiatan PublikopiniPasar PolitikPendidikan

Menyusuri Tanjungharjo: Saat kader PMII Belajar Mendengar Suara Warga

×

Menyusuri Tanjungharjo: Saat kader PMII Belajar Mendengar Suara Warga

Sebarkan artikel ini

Indoswara/ Bojonegoro

Oleh: Anggun Sofia Ardila

26 Juli 2025, Langit Tanjungharjo sore itu terasa berbeda. Jalan-jalan kecil di desa yang teduh ini dipenuhi suara langkah kader PMII IKIP PGRI Bojonegoro yang sedang melaksanakan Pelatihan Kader Dasar (PKD) Ke-XXIV. Bukan sekadar kegiatan kaderisasi seperti biasanya, kali ini kami datang dengan misi lain: melakukan riset kecil untuk mendengar langsung kebutuhan masyarakat.

Bagi sebagian dari kami, ini bukan hanya pengalaman baru, tetapi juga pelajaran penting. Selama ini, kaderisasi lebih banyak berputar pada materi di ruang kelas, tentang ideologi, keorganisasian, dan gerakan. Namun hari itu, kami diajak benar-benar turun, menyusuri lorong-lorong desa, duduk di beranda rumah warga, dan mendengarkan cerita-cerita yang jarang tersampaikan.

Dalam mini riset ini, kami hanya mewawancarai tujuh warga Desa Tanjungharjo, Kecamatan Kapas. Angkanya kecil, tapi setiap percakapan menyimpan pesan besar. Seorang ibu bercerita bagaimana anaknya harus menunda sekolah karena biaya. Seorang bapak berharap ada bimbingan belajar gratis bagi anak-anak desa. Ada pula keluarga yang mengaku masih ada anak yang harus turut bekerja untuk menunjang keperluan kuliah.

Semua cerita itu kami catat dalam angket sederhana. Hasilnya nanti akan kami olah menjadi policy brief, yang akan kami sampaikan kepada pihak kampus dan, jika memungkinkan, kepada pemerintah desa atau pembuat kebijakan. Harapan kami sederhana: suara masyarakat desa bisa terdengar lebih jauh dan mendapatkan perhatian.

Inilah yang membuat PK PMII IKIP PGRI Bojonegoro menjadi komisariat pertama di Bojonegoro yang memasukkan riset lapangan ke dalam kegiatan PKD. Langkah ini bukan demi pencitraan, tetapi untuk memberi pengalaman nyata kepada kader, bahwa seorang kader PMII bukan hanya aktivis kampus, tetapi juga bagian dari masyarakat yang harus peka dan responsif.

“Kaderisasi harus lebih dari sekadar teori. Dengan riset ini, kader belajar mendengar suara masyarakat, memahami realita, dan membawa data yang bisa jadi bahan rekomendasi untuk kampus maupun pemerintah desa. Inilah ciri khas PKD XXIV kami,” ujar Zidan selaku ketua Panitia Pelaksana PKD ini saat pembekalan sebelum turun lapangan. “Ketua Komisariat menitipkan gagasan hebat hasil dari diskusi panjang mengenai dampak kami sebagai calon sarjana pendidikan yang pada akhirnya menjadi alasan terciptanya riset pertama pada PKD kali ini” lanjutnya.

Bagi kami, inisiatif kecil ini adalah langkah awal. Kami sadar, dengan tujuh responden, ini belum bisa menjadi riset besar. Namun, setidaknya kader yang mengikuti PKD belajar bahwa mendengar dan mencatat adalah bagian dari perjuangan. Kelak, ketika para kader ini menjadi penggerak di kampus maupun masyarakat, mereka tahu bahwa setiap langkah perubahan harus dimulai dari realita di lapangan.

PKD Ke-XXIV ini pun akhirnya terasa berbeda. Bukan hanya sebagai ruang belajar tentang organisasi, tetapi juga sebagai ruang untuk mengenal denyut nadi desa dan warganya. Dan kami percaya, langkah kecil ini akan melahirkan kader-kader PMII yang lebih peka, transformatif, dan siap menjadi jembatan antara masyarakat dan para pengambil kebijakan.