Dinding Toiletopini

Ayam pembangkit kemiskinan

×

Ayam pembangkit kemiskinan

Sebarkan artikel ini

Mas men

Belahan barat perbatasan jawa tengah marak di temukan jejak ayam, sebagai pola project pengentasan ekonomi kemiskinan ekstrem.  Bojonegoro kini tengah mengidentifikasikan peralihan dari era pengaspalan jalan menuju kebangkitan ekonomi merdeka pangan dan gizi berbasis peternakan ayam melaui pemanfaatan Apbd, csr minyak dan apbd desa. 

menilik tulisan adam smith “Sebuah penyelidikan tentang hakikat dan penyebab kekayaan bangsa. Volume 1 dari 2 : Kepentingan [para pengusaha] selalu dalam beberapa hal berbeda dari, dan bahkan berlawanan dengan, kepentingan publik … Usulan undang-undang atau peraturan perdagangan baru yang berasal dari perintah ini … tidak boleh diadopsi, sampai setelah diperiksa dengan saksama dan lama … dengan perhatian yang sangat mencurigakan. Itu berasal dari perintah orang-orang … yang umumnya memiliki kepentingan untuk menipu dan bahkan menindas publik, artinya perlu menjadi pengawasan bersama ,bukan cuma untuk Bojonegoro tapi sebenarnya secara umum mustinya berlaku untuk segala warga dengan dasar nilai nasionalisme kolonial menjadi nasionalisme bangs merdeka.

Pertanyan yang kemudian boleh diajukan, mengapa Bojonegoro memilih ternak ayam sebagai icon pembangkit kemiskinan, saya kira kita lihat saja juknisnya ke depan . karena hampir seluruh indonesia hari ini hanya berlatar belakang politik, atau isu tokoh  politik, berkode stunting, kemiskinan

Lagi pula, siapa yang memiliki otoritas meneguhkan sebutan miskin atas nama seseorang , Pemerintah melahirkan kemiskinan setiap ada nama program.. 

Jika ukuran niat baik saja ,perlu kecukupan berbuat serangkaian skema yang beraifat aktif dan serius berjuang , tak kalah semacam perjuangan merebut kemerdekaan , se- giat tokoh  Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Sanusi Pane, mereka yang berjuang melalui jalan kebudayaan. 

Bojonegoro harusnya tidak boleh sekadar atribut pleonasme sosial, degradasi makna dan nilai, kemerosotan niat berjuang dalam hikmah dan aksinya, semacam amelioratif semantik hingga praksisnya.” Bahasa agung depe” 

Saya ingat kutipan kalimat Soe Hok Gie,” Pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi.”

akan kah pemimpin kita seperti Gie.. 

Editor: IndoSwara